Laman

Senin, 18 Maret 2013

PSAK 1 (Rev 2009): Penyajian Laporan Keuangan



Sejalan dengan konvergensi IFRS pada tahun 2009, DSAK-IAI mengeluarkan PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan (Revisi 2009) berlaku efektif 1 Januari 2011 dan membawa banyak perubahan pada wajah laporan keuangan perusahaan di Indonesia. PSAK 1 Penyajian Laporan Keuangan menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan.
Secara khusus, PSAK 1 mengatur:
1.    pertimbangan menyeluruh untuk penyajian laporan keuangan
2.    penduan tentang struktur laporan keuangan
3.    persyaratan minimum untuk isi laporan keuangan
PSAK 1 dapat diterapkan untuk semua laporan keuangan tujuan umum (general purposes financial statements) yang disusun dan disajikan berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Namun PSAK 1 tidak berlaku bagi entitas yang menyusun dan menyajikan laporan keuangan berbasis syariah yang merujuk kepada PSAK 101 Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
Dengan demikian, PSAK 1 dapat diterapkan untuk laporan keuangan semua entitas usaha baik individu maupun grup dalam bentuk laporan keuangan tahunan, namun tidak untuk laporan keuangan interim yang diatur dalam PSAK 3 Laporan Keuangan Interim.
Pernyataan ini menetetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut “laporan keuangan” agar dapat dibandinkan baik dengan laporan periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan entitas lain. Pernyataan in mengatur persyaratan bagi penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimal isi laporan keuangan.
Entitas menerapkan pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan standar akuntans keuangan. Pernyataan ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah. PSAK lainya mengatur persyaratan pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan transaksi tertentu dan peristiwa lain.
Pernyataan ini tidak diterapkan bagi struktur dan isi laporan keuangan interim ringkas yang disusun sesuai dengan PSAK 3: Laporan keuangan Interim. Pernyataan ini berlaku bagi seluruh entitas, termasuk entitas yang menyajikan laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan tersendiri sebagaimana diatur dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri.
Pernyataan ini menggunakan terminologi yang cocok bagi entitas yang berorientasi laba, termasuk entitas bisnis sektor publik. JIka entitas tidak berorientasi laba menerapkan pernyataan ini, maka entitas tersebut mungkin perlu menyesuaikan deskripsi beberapa pos yang terdapat dalam laporan keuagnan dan istilah laporan keuangan itu sendiri.
hal yang sama, entitas yang tidak memiliki ekuitas sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 50: Instrumen Keuangan: Penyajian (misalnya reksa dana) dan entitas yang modalnya bukanekuitas (misalnya koperasi) mungkin perlu mengadaptasi penyajian laporan keuangan kepentingan peserta atau pemegang unit.

1.   Laporan Keuangan
Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, dan arus kas dari suatu entitas yang bermanfaat bagi beragam pengguna laporan dalam membuat keputusan ekonomi.
PSAK 1 mnegatur bahwa laporan keuangan harus mencakup komponen-komponen sebagai berikut:
a.    Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode
b.    Laporan laba rugi komprehensif
c.    Laporan perubahan ekuitas
d.    Laporan arus kas
e.    Catatan atas laporan keuangan berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting danpenjelasan lain
f.     Laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara restropektif atau membuat penyajian kembali pos-pos laporan keuangan atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan.
Selain komponen tersebut di atas entitas juga dianjurkan untuk menyajikan laporan tambahan di luar laporan keuangan, misalnya tentang laporan lingkungan dan laporan nilai tambah (value added statement) jika manajamen meyakini bahwa informasi tambahan tersebut akan membantu pengguna dalam membuat keputusan ekonomi. Laporan tambahan tersebut disajikan di luar laporan keuangan.

2.   Karakteristik Umum
PSAK 1 menetapkan karakteristik umum penyajian laporan keuangan sebagai berikut:
a.    Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap persyaratan standar akuntansi keuangan
b.    Kelangsungan usaha
c.    Dasar akrual akuntansi
d.    Materialitas dan agregasi
e.    Saling hapus (offsetting)
f.     Frekuensi pelaporan
g.    Informasi komparatif
h.    Konsistensi penyajian

Penyajian secara wajar dan kepatuhan terhadap PSAK
Penyajian secara wajar mensyaratkan bahwa dampak transaksi, peristiwa, dan kondisi lainnya disajikan secara akurat, sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, liabilitas, pendapatan dan beban yang ditetapkan dalam kerangka dasar. Penyajian secara wajar juga mensyaratkan bahwa suatu entitas untuk:
a.    memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi berdasarkan PSAK 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan. PSAK 25 antara lain mengatur hierarki panduan otoritatif yang dipertimbangkan oleh manajemen dalam hal tidak terdapat PSAK yang mengatur pos tertentu secara spesifik.
b.    menyajikan informasi termasuk kebijakan akuntansi sedemikian rupa sehingga dapat memberikan informasi yang releva, andal, dapat dibandingkan,dan mudah dipahami.
c.    memberikan pengungkapan tambahan jika kesesuaian dangan persyaratan spesifik dalam SAK tidak cukup bagi pengguna laporan keuangan untuk memahami pengaruh dari transaksi, peristiwa lain dan kondisi tertentu terhadap posisi keuangan dan kinerja keuangan entitas.
Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap SAK kecuali laporan keuangan tersebut talah patuh terhadap semua yang disyaratkan dalam SAK.
Dalam keadaan yang jarang terjadi ketika manajemen menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap persyaratan SAK dapat menimbulkan kesalahpahaman sehingga bertentangan dengan tujuan pelaporan keuangan yang diatur dalam kerangka, PSAK 1 mensyaratkan bahwa entitas itu tidak menerapkan persyaratan tersebut sepanjang tidak dilarang oleh kerangka peraturan yansg relevan. Bila keadaan tersebut terjadi, PSAK 1 mengatur bahwa entitas itu mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
a.    bahwa entitas itu telah memenuhi persyaratan semua SAK yang dapat diterapkan, namun tidak menerapkan persyaratan tertentu guna mencapai penyajian secara wajar.
b.    judul SAK yang tidak diterapkan oleh entitas itu, sifat, alasan tidak diterapkan, dan perlakuan yang diterapkan.
Ketika menilai apakah kepatuhan terhadap ketentuan spesifik dari suatu PSAK akan memberikan pemahaman yang salah yang bertentangan dengan tujuan laporan keuangan, manajeman harus mempertimbangkan:
a.    alasan tujuan laoran keuangan tidak tercapai dalam kondisi tersebut
b.    bagaimana perbedaan kondisi entitas dengan kondisi entitas lain yang mematuhi persyaratan.
Kelangsungan usaha
PSAK 1 mengatur bahwa manejemen mempertimbangkan kelangsungan usaha entitas dalam menyusun laporan keuangan. manajemen memerhatikan semua informasi masa depan, paling sedikit (namun tidak dibatasi untuk) dua belas bulan dari akhir periode pelaporan.
PSAK 1 lebih lanjut mengatur bahwa laporan keuangan disusun berdasarkan kelangsungan usaha, kecuali jika manajemen berniat melikuidasi entitas itu atau menghentikan operasi, atau tidak memiliki alternatif realistis kecuali melakukan kedua hal tersebut.
Namun bila manajemen menyadari ketidakpastian material yang terkait dengan peristiwa atau kondisi yang dapat menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan usaha entitas itu, PSAK 1 mensayratkan agar ketidakpastian itu diungkapan.
Bila laporan keuangan tidak disusun berdasarkan asumsi kelangsungan usaha , PSAK 1 mensyaratkan agar fakta tersebut beserta alasannya diungkapkan, beserta dasar dalam menyusun laporan keuangan. Apabila laporan keuangan disusun misalnya dengan asumsi perusahaan akan dilikuidasi, pos-pos dalam laporan posisi keuangan diukur bukan dengan harga perolehannya namun dengan nilai bila perusahaan tersubut dilikudasi.
Dasar Akrual Akuntansi
PSAK1 mensyaratkan bahwa suatu entitas dalam menyusun laporan keuangannya, kecuali laporan arus kas, dengan menggunakan dasar akrual akuntansi.
Materialitas dan Agregasi
PSAK 1 mengatur bahwa masing-masing unsur material diungkapkan secara terpisah dalam laporan keuangan.
Suatu informasi disebut material jika informasi tersebut dihapuskan atau disajikan secara tidak tepat, maka keputusan ekonomi pengguna berdasarkan laporan keuangan itu akan terpengaruh. Materialitas bergantung pada besaran dan sifat penghapusan atau penyajian yang tidak tepat, yang dipertimbangkan menurut kondisi yang ada. Besaran atau sifat suatu unsur, atau gabungan keduanya, dapat menjadi faktor penentu.
PSAK 1 juga mengatur bahwa unsur-unsur tidak material harus digabungkan dengan unsur lain yang sejenis dan tidak perlu disajikan secara terpisah.
Penerapan konsep materialitas juga berarti bahwa persyaratan pengungkapan dalam SAK tidak perlu dipenuhi jika informasi yang dihasilkan tidak maerial.
Saling Hapus
PSAK1 mengatur bahwa aset dan liabilitas, serta pendapatan dan beban tidak boleh saling hapus kecuali bila disyaratkan atau diijinkan oleh SAK lain karena saling hapus dapat mempengaruhi pemahaman pengguna laporan keuangan.
Dalam konteks ini, aset yang dilaporkan sebesar nilai setelah dikurangi penyisihan (misalnya penyisihan pitang ragu-ragu) tidak termasuk saling hapus.
Frekuensi Pelaporan
Kebermanfaatan laporan keuangan akan berkurang bila laporan keuangan itu tidak diberikan kepada pengguna secara tepat waktu. PSAK1 mensyaratkan bahwa laporan keuangan disajikan paling sedikit satu tahun sekali.
Apabila tanggal pelaporan berubah, PSAK 1 mensyaratkan bahwa entitas mengungkapkan hal-hal sebagai berikut:
a.    alasan menggunakan periode yang lebih atau kurang darpi satu tahun kalender
b.    fakta bahwa informasi komparatif laba rugi, perubahan ekuitas, arus kas, dan catatan terkait tidak seluruhnya dapat dibandingkan
Informasi Komparatif
PSAK 1 mengatur bahwa informasi komparatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya untuk seluruh informasi angka dalam laporan keuangan kecuali bila tidak diperbolehkan atau dipersyaratkan oleh SAK lain.
Informasi komparatif diuangkapkan dalam informasi naratif dan deskriptif bila relevan untuk pemahaman laporan keuangan untuk periode berjalan.
Bila ada perubahan penyajian laporan keuangan, informasi komparatif umumnya disesuaikan atau diklasifikasikan ulang agar sesuai dengan penyajian periode berjalan. Fakta ini juga diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
Konsistensi Penyajian
PSAK 1 mengatur bahwa penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antarperiode harus konsisten.
PSAK 1 memperbolehkan penyajian dan klasifikasi untuk diubah apabila perubahan tersebut:
a.    menghasilkan penyajian yang lebi tepat
b.    disyaratkan oleh SAK atau interpretasi

3.   STRUKTUR DAN ISI LAPORAN KEUANGAN
Identifikasi Laporan Keuangan
Entitas mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya dari informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama. Entitas mengidentifikasi secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan dengan menyajikan informasi berikut ini secara jelas:
a.    nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya
b.    apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas
c.    tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan
d.    mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52
e.    pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan
Laporan Posisi Keuangan
Laporan posisi keuangan minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut:
a.    aset tetap
b.    properti investasi
c.    aset tidak berwujud
d.    aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e), (h) dan (i))
e.    investasi dengan menggunakan metode ekuitas;
f.     aset biolojik
g.    persediaan;
h.    piutang dagang dan piutang lainnya;
i.      kas dan setara kas;
j.      total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58
k.    utang dagang dan terutang lainnya
l.      kewajiban diestimasi
m.   laibilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l))
n.    laibilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46
o.    laibilitas dan aset pajak tangguhan, sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46
p.    laibilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58;
q.    kepentingan non-pengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas
r.     modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Entitas menyajikan pos-pos tambahan, judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan entitas.
Ketika entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasfikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan, maka aset (laibilitas) pajak tangguhan tidak boleh diklasifikasikan sebagai aset lancar (laibilitas jangka pendek)
PSAK 1 tidak mengatur susunan atau format penyajian pos-pos, namun memberikan pedoman sebagai berikut:
a.    suatu pos disajikan terpisah jika ukuran, sifat, atau fungsi dari pos tersebut atau agregasi pos-pos yang sama menyebabkan penyajian terpisah menjadi relevan untuk memahami laporan posisi keuangan entitas.
b.    penjelasan yang digunakan dan urutan dari pos-pos atau agregasi pos-pos yang sama dapat diubah sesuai dengan sifat entitas dan transaksinya, untuk memberikan informasi yang relevan dalam memahami posisi keuangan entitas.
Dalam mempertimbangkan apakah pos-pos tambahan disajikan secara terpisah, entitas mendasarkannya atas penilaian dari:
a.    sifat dan likuiditas aset
b.    fungsi aset tersebut dalam entitas
c.    jumlah, sifat dan jangka waktu laibilitas

Pembedaan Aset Lancar dan Tidak Lancar dan Laibilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Entitas menyajikan aset lancar dan tidak lancar dan laibilitas jangka pendek dan jangka panjang sebagai klasifikasi yang terpisah dalam laporan posisi keuangan sesuai, kecuali penyajian berdasarkan likuiditas memberikan informasi yang lebih relevan dan dapat diandalkan. Jika pengecualian tersebut diterapkan, maka entitas menyajikan seluruh aset dan laibilitas berdasarkan urutan likuiditas.
Untuk masing-masing pos asset dan laibilitas yang menggabungkan jumlah yang diperkirakan dipulihkan atau diselesaikan baik sebelum maupun setelah 12 bulan sejak tanggal pelaporan, PSAK 1 mensyaratkan pengungkapan jumlah yang diperkirakan dipulihkan atau diselesaikan setelah lebih dari 12 bulan.
Entitas mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika:
a.    entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya dalam siklus operasi normal;
b.    entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;
c.    entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan
d.    kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan
Aset yang tidak termasuk kategori tersebut sebagai aset tidak lancar.
Suatu laibilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:
a.    entitas mengharapkan akan menyelesaikan laibilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya
b.    entitas memiliki laibilitas tersebut untuk tujuan diperdagangkan
c.    laibilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau
d.    entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian laibilitas selama sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.
Laibilitas yang tidak termasuk kategori tersebut diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka panjang.
Informasi yang Disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan atau Catatan atas Laporan Keuangan
Entitas mengungkapkan di laporan posisi keuangan atau di catatan atas laporan keuangan, subklasifikasi pos-pos yang disajikan, dan diklasifikasikan dengan cara yang tepat sesuai dengan operasi entitas.
Entitas mengungkapkan masing-masing kelas modal saham dalam laporan posisi keuangan atau laporan perubahan ekuitas, atau catatan atas laporan keuangan:
a.    jumlah saham modal dasar
b.    jumlah saham yang diterbitkan dan disetor penuh, dan yang diterbitkan tetapi tidak disetor penuh
c.    nilai nominal saham, atau nilai dari saham yang tidak memiliki nilai nominal
d.    rekonsiliasi jumlah saham beredar pada awal dan akhir periode
e.    hak, keistimewaan, dan pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal
f.     saham entitas yang dikuasai oleh entitas itu sendiri atau oleh entitas anak atau entitas asosiasi
g.    saham yang dicadangkan untuk penerbitan dengan hak opsi dan kontrak penjualan saham, termasuk jumlah dan persyaratan
PSAK 1 juga mensyaratkan pengungkapan penjelasan mengenai sifat dan tujuan setiap pos cadangan dalam ekuitas.
Laporan Laba Rugi Komprehensif
PSAK 1 mengatur bahwa seluruh pos penghasilan dan pengelauaran yang diakui dalam suatu periode dimasukkan ke dalam laporan laba rugi komprehensif, kecuali jika tidak diwajibkan oleh standar akuntansi lain. Dalam PSAK 1, perusahaan juga harus menyajikan pendapatan komprehensif lain selain laba rugi dari operasi.
Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan pendapatan komprehensif. Komponen pendapatan komprehensif lain meliputi:
a.    perubahan dalam surplus revaluasi (PSAK 16: Aset tetap dan PSAK 19: Aset tak berwujud)
b.    Keuntungan dan kerugian aktuaria aras program manfaat pasti yang diakui sesuai dengan PSAK 24: Imbalan kerja paragraf 99
c.    Keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari kegiatan usaha luar negeri (PSAK 10: Pengaruh perubahan kurs valuta asing)
d.    Keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali aset keuangan sebagai “tersedia untuk dijual” (PSAK 55: instrumen keuangan: Pengakuan dan Pengukuran)
e.    bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas (PSAK 55)
PSAK 1 memberikan dua pilihan dalam format laporan laba rugi komprehensif. Yang pertama adalah laporan laba rugi komprehensif di mana pendapatan komprehensif disajikan dalam satu kesatuan. Sedangkan pilihan kedua adalah menyajikan secara terpisah yakni laporan laba rugi dan laporan laba rugi komprehensif lain.
Laporan laba rugi komprehensif minimal menyajikan pos-pos sebagai berikut:
a.    pendapatan
b.    biaya keuangan
c.    bagian laba rugi dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas
d.    beban pajak
e.    suatu jumlah tunggal yang mencakup total dari laba rugi setelah pajak dari operasi yang dihentikan; dan keuntungan atau kerugian setelah pajak yang diakui dengan pengukuran nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual atau dari pelepasan aset atau kelompok yang dilepaskan dalam rangka operasi yang dihentikan
f.     laba rugi
g.    setiap komponen dari pendapatan komprehensif lain yang diklasifikasikan sesuai dengan sifat (selain jumlah dalam huruf (h))
h.    bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan joint ventures yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas
i.      total laba rugi komprehensif
Lebih lanjut PSAK 1 mensyaratkan penyajian baik laba rugi periode berjalan maupun laba rugi komprehensif untuk dialokasikan kepada kepentingan nonpengendali dan pemilik entitas induk. Persyaratan ini termasuk yang baru di Indonesia karena sebelumnya pendapatan komprehensif lain tidak disajikan di laporan kinerja dan tidak perlu dialokasikan antara kepentingan nonpengendali dan induk perusahaan.
PSAK 1 juga mengatur bahwa pos, judul, dan subjudul lainnya harus disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif bila diwajibkan oleh SAKatau bila penyajiannya relevan untuk pemahaman terhadap kinerja keuangan entitas.
Harus dicatat bahwa PSAK 1 tidak memperbolehkan penyajian segala pos pendapatan dan beban sebagai pos luar biasa di laporan laba rugi komprehensif atau catatan atas laporan keuangan. Ini merupakan suatu persyaratan baru di Indonesia karena sebelumnya pos luar biasa diijinkan untuk hal-hal yang tidak biasa terjadi. Pos luar biasa dihapus oleh IASB karena sulitnya menentukan definisi luar biasa karena definisi tersebut antara satu perusahaan dan perusahaan lain dapat saja berbeda. Karena tingginya subjektivitas, pos luar biasa ditengarai sering dijadikan sarana perusahaan untuk melakukan manajemen laba.
PSAK1 mensyaratkan pengungkapan pos-pos pendapatan dan beban yang material secara terpisah. Pos-pos ini biasanya disebut pos-pos abnormal. Pos-pos abnormal adalah pos-pos pendapatan dan beban yang perlu diungkapkan untuk menjelaskan kinerja entitas untuk periode yang relevan akibat besaran, sifat, atau kejadiannya.
Berikut adalah pos-pos abnormal:
a.    penurunan nilai persediaan menjadi nilai realisasi neto atau penurunan nilai aset tetap menjadi jumlah yang dapat dipulihkan kembali, sebagaimana pemulihan atas penurunan tersebut;
b.    restrukturisasi atas aktivitas-aktivitas suatu entitas dan untuk setiap laibilitas diestimasi atas biaya restrukturisasi;
c.    pelepasan aset tetap;
d.    pelepasan investasi;
e.    operasi yang dihentikan;
f.     penyelesaian litigasi; dan
g.    pembalikan laibilitas diestimasi lain
PSAK 25 menyaratkan bahwa sifat dan jumlah pos-pos abnormal tersebut diungkapkan secara terpisah dalam laporan laba rugi komprehensif atau dalam catatan atas laporan keuangan.
Entitas menyajikan analisis beban yang diakui dalam laba rugi dengan menggunakan klasifikasi berdasarkan sifat atau fungsinya dalam entitas, mana yang dapat menyediakan informasi yang andal dan lebih relevan.
Ada dua metode analisis dalam mengklasifikasi beban:
a.    berdasarkan sifatnya
Entitas mengabungkan beban dalam laba rugi berdasarkan sifatnya (misalnya, penyusutan, pembelian bahan baku, biaya transportasi, imbalan kerja, dan biaya iklan), dan tidak merealokasikan menurut berbagai fungsi dalam entitas. Metode ini mudah diterapkan karena tidak memerlukan adanya alokasi beban menurut klasifikasi fungsional. Contoh dari klasifikasi dengan menggunakan metode sifat beban adalah sebagai berikut:
Pendapatan                                                                                                                      XXX
Pendapatan lainnya                                                                                                          XXX
Perubahan atas persediaan barang jadi dan barang dalam proses                                    XXX
Bahan baku yang digunakan                                                                                 XXX
Beban imbalan kerja                                                                                             XXX
Beban penyusutan dan amortisasi                                                                        XXX
Beban lainnya                                                                                                       XXX
Total beban                                                                                                                      XXX
Laba sebelum pajak                                                                                                          XXX

b.    berdasarkan fungsinya
mengklasifikasikan beban berdasarkan fungsinya sebagai bagian dari biaya penjualan atau, misalnya, biaya aktivitas distribusi atau administratif. Sekurang-kurangnya entitas mengungkapkan biaya penjualan berdasarkan metode ini secara terpisah dari beban-beban lainnya. Metode ini dapat memberikan informasi yang lebih relevan kepada pengguna laporan keuangan dibandingkan dengan metode klasifikasi beban berdasarkan sifat, namun pengalokasian biaya berdasarkan fungsi mungkin membutuhkan pengalokasian secara arbiter dan pertimbangan yang matang. Contoh klasifikasi berdasarkan metode fungsi beban adalah sebagai berikut:
Pendapatan                                                                              XXX
Beban penjualan                                                                      XXX
Laba bruto                                                                               XXX
Pendapatan lainnya                                                                  XXX
Beban distribusi                                                                       XXX
Beban administratif                                                                  XXX
Beban lainnya                                                                          XXX
Laba sebelum pajak                                                                 XXX
Pemilihan antara metode fungsi beban dan sifat beban tergantung pada faktor historis dan industri serta sifat entitas. Kedua metode tersebut memberikan indikasi tentang biayabiaya tersebut yang mungkin berbeda, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tingkat penjualan atau produksi entitas. Karena tiap metode penyajian memiliki manfaat untuk jenis entitas yang berbeda, Pernyataan ini mensyaratkan manajemen  untuk memilih penyajian yang andal dan lebih relevan. Namun demikian, karena informasi atas sifat beban bermanfaat dalam memprediksi arus kas masa depan, maka pengungkapan tambahan diperlukan ketika metode fungsi beban digunakan.
Laporan Perubahan Ekuitas
Beberapa jenis laba/rugi seperti surplus/defisit revaluasi, selisih penjabaran mata uang, dan laba/rugi akibat perubahan nilai pasar aset kuangan tersedia untuk dijual tidak disajikan dalamlaporan laba rugi namun diakui secara langsung dalam ekuitas. Oleh karena seluruh informasi laba/rugi penting untuk diperhitungkan dalam menilai posisi keuangan entitas, PSAK 1 mensyaratkan suatu laporan tersendiri yaitu laporan perubahan ekuitas.
Entitas menyajikan laporan perubahan ekuitas yang menunjukkan:
a.    total laba rugi komprehensif selama suatu periode, yang menunjukkan secara terpisah total jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan kepada kepentingan non-pengendali;
b.    untuk tiap komponen ekuitas, pengaruh penerapan retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang diakui sesuai dengan PSAK 25;
c.    untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah mengungkapkan masing-masing perubahan yang timbul dari:
1.    laba rugi;
2.    masing-masing pos pendapatan komprehensif lain; dan
3.    transaksi dengan pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik, yang menunjukkan secara terpisah kontribusi dari pemilik dan distribusi kepada pemilik dan perubahan hak kepemilikan pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang pengendalian.
Modal
PSAK 1 mensyaratkan agar entitas juga mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses entitas dalam mengelola permodalannya baik dalam bentuk informasi kualitatif maupun ringkasan informasi kuantitatif.
Catatan atas Laporan Keuangan
Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian tidak terpisahkan dari laporan keuangan.
PSAK 1 mengatur bahwa catatan atas laporan keuangan harus:
a.    Menyajikan informasi tentang dasar akuntansi dan kebijakan akuntansi penting yang diterapkan
b.    Mengungkapkan informasi yang diwajibkan oleh SAK yang tidak disajikan di bagian lain dari laporan keuangan; dan
c.    Memberikan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan untuk penyajian secara wajar.
PSAK 1 lebih jauh mensyaratkan bahwa catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis. Selain itu, masing-masing pos dalam laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif, dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan.
PSAK 1 mengatur bahwa catatan atas laporan keuangan secara umum mencakup hal-hal berikut dan biasanya disajikan secara berurutan:
a.    Pernyataan kepatuhan terhadap SAK (sebagaimana diwajibkan oleh paragraf 17)
b.    Dasar akuntansi
c.    Kebijakan akuntansi signifikan
d.    Informasi pendukung untuk pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan sesuai urutan penyajiannya; dan (misalnya peristiwa setelah periode pelaporan (PSAK 8), informasi segmen operasi (PSAK 5), dan pengungkapan pihak-pihak berelasi (PSAK 7); dan
e.    Pengungkapan nonkeuangan (misalnya kebijakan pengelolaan risiko)
Pengungkapan Kebijakan Akuntansi
Kebijakan akuntansi adalah serangkaian prinsip, dasar, konvensi, peraturan, dan praktik spesifik yang diterapkan oleh suatu entitas dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan.
PSAK 1 mengatur bahwa bagian kebijakan akuntansi dalam catatan atas laporan keuangan harus mencakup hal-hal berikut:
a.    Dasar pengukuran yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan (yang biasanya disebut ‘dasar akuntansi’)
b.    Setiap kebijakan akuntansi spesifik yang diperlukan untuk memahami laporan keuangan.
Dapat dilihat bahwa PSAK 25 Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan memuat ketentuan lebih lanjut tentang pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, konsistensi kebijakan akuntansi, dan perubahan kebijakan akuntansi.
Tentang pemilihan kebijakan akuntansi, PSAK 25 mengatur bahwa:
a.    Bila suatu standar secara khusus berlaku untuk transaksi, peristiwa, atau kondisi lainnya, kebijakan akuntansi harus ditentukan dengan menerapkan standar tersebut dan dengan memperhitungkan semua panduan penerapan terkait.
b.    Bila tidak ada standar khusus yang berlaku untuk transaksi, peristiwa, atau kondisi lainnya, manajemen harus menggunakan penilaiannya sendiri dalam membuat dan menerapkan kebijakan akuntansi yang menghasilkan informasi yang bersifat:
-          Relevan dengan kebutuhan pengguna terkait pembuatan keputusan; dan
-          Andal, yang berarti bahwa laporan keuangan: (i) mencerminkan hasil dan posisi keuangan entitas itu secara tepat, (ii) mencerminkan substansi ekonomi dari peristiwa dan transaksi dan bukan hanya bentuk formalnya saja, (iii) netral dan bebas dari bias, (iv) apa adanya, (v) lengkap dalam hal materi laporan.
Dalam membuat penilaian yang disebutkan di atas, manajemen harus merujuk dan memperhitungkan ketepatan sumber-sumber berikut secara berurutan:
a.    Persyaratan dan panduan standar yang mengatur isu-isu serupa dan terkait.
b.    Definisi, kriteria pengakuan, dan konsep pengukuran untuk aset, liabilitas, pendapatan, dan beban yang termuat dalam Kerangka.
c.    Keputusan badan standar akuntansi lain dan praktik yang diterima di industri sejauh keduanya konsisten dengan butir (a) dan (b) di atas.
PSAK 1 lebih lanjut mensyaratkan bahwa suatu entitas mengungkapkan penilaian manajemen dalam proses penerapan kebijakan akuntansi entitas itu yang paling berdampak signifikan terhadap angka-angka yang diakui dalam laporan keuangan. Contoh pengungkapan seperti itu misalnya penilaian yang berhubungan dengan apakah pada dasarnya segala risiko dan imbalan kepemilikan aset keuangan dialihkan, dan penilaian yang berhubungan dengan apakah transaksi tertentu merupakan transaksi pendanaan dan bukan transaksi penjualan.
PSAK 1 juga mensyaratkan pengungkapan sumber estimasi ketidakpastian atas informasi dalam laporan keuangan. Perusahaan mengungkapkan asumsi yang dibuat mengenai masa depan, dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain pada akhir periode pelaporan yang memiliki risiko signifikan dab bisa mengakibatkan penyesuaian material terhadap pos-pos dalam laporan keuangan periode berikutnya (paragraf 122).
Contoh pengungkapan seperti itu misalnya dapat terjadi pada perusahaan pertambangan emas yang terpapar risiko harga emas dunia yang fluktuatif. Apabila pada akhir periode pelaporan, harga emas sedang jatuh dan diperkirakan akan terus jatuh sampai tahun berikutnya, maka fakta tersebut dapat mempengaruhi kinerja perusahaan tahun berikutnya. Contoh lainnya misalnya aasumsi tentang perubahan suku bunga jika entitas itu mempunyai aset dan liabilitias keuangan berbunga, asumsi tentang dampak teknologi lama terhadap persediaan jika entitas itu mempunyai persediaan berteknologi tinggi dalam jumlah besar, dan asumsi tentang hasil litigasi dalam proses di masa depan jika entitas itu telah menyediakan penyisihan dalam jumlah besar untuk kerugian kontinjensi.
Pengungkapan Lainnya
PSAK 1 mensyaratkan bahwa suatu entitas mengungkapkan informasi berikut jika tidak diungkapkan di bagian lain dari laporan keuangan yang diterbitkan:
a.    Domisili dan bentuk hukum entitas, negara tempat pendirian, dan alamat kantornya.
b.    Penjelasan tentang sifat operasi dan kegiatan utama entitas
c.    Nama induk perusahaan dan perusahaan holdingnya
PSAK 1 lebih jauh mensyaratkan pengungkapan informasi berikut terkait dengan dividen:
a.    Jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyelesaian laporan keuangan tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode. Perusahaan juga harus mengungkapkan jumlah dividen per lembar saham.
b.    Jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui.
PERBEDAAN DENGAN STANDAR IASB
PSAK 1 dibuat berdasarkan IAS 1 Presentation of Financial Statements yang dikeluarkan oleh IASB. Tidak ada perbedaan signifikan antara PSAK 1 dan IAS 1 selain definisi SAK yang menambahkan peraturan regulator pasar modal.